Sholat ·

Pengertian Duduk Tawaruk dan Duduk Iftirosy


Duduk iftirasy dilakukan pada tasyahud awwal dan duduk antara dua sujud, sementara duduk tawarruk di tasyahud akhir Perbesar

Duduk iftirasy dilakukan pada tasyahud awwal dan duduk antara dua sujud, sementara duduk tawarruk di tasyahud akhir

Dalam sholat, terdapat duduk tawarruk dan iftirosy. Keduanya adalah cara duduk yang disyariatkan, namun memiliki perbedaan waktu dalam pelaksanaannya.

Dalam segala gerakan sholat, ada rukun dan syarat yang mengikat dan harus dilakukan kecuali memiliki dalil tertentu sesuai syar’i yang melonggarkan pelaksanaannya.

Sebab, Jurnal Istek mencatat, esensi ibadah sholat bukan hanya pelaksanaannya, tetapi dilihat dari mulai prosesnya seperti dari mulai berwudhu sampai bagaimana pengaruh dari pelaksanaannya.

Pengertian Duduk Tawarruk dan Iftirosy

Terdapat dua posisi duduk dalam sholat, yakni duduk tawarruk dan iftirosy. Posisi duduk iftirosy adalah duduk dengan menegakkan kaki kanan dan membentangkan kaki kiri, kemudian menduduki kaki kiri.

Sedangkan duduk tawarruk adalah duduk dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan kaki kiri ke depan (di bawah kaki kanan), dan duduknya di atas tanah atau lantai.

Duduk Iftirosy

Posisi Duduk Iftirosy dalam sholat yang benar

Posisi Duduk Iftirosy dalam sholat yang benar

Duduk iftirosy adalah duduk bersimpuh, yaitu posisi duduk dengan kedua belah kaki terlipat ke belakang untuk tumpuan badan. Pada duduk iftirosy, kedua tumit kaki menjadi penopang bokong, dengan posisi punggung telapak kaki kiri menghadap ke lantai.

Sedangkan posisi kaki kanan hampir sama, hanya saja ditambah dengan sedikit menekukkan jari-jari kaki kanan ke arah depan seakan-akan mengikuti arah kiblat.

Dalam buku Ensiklopedia Fikih Indonesia 3: Shalat oleh Abu Hamid, dkk., duduk iftirasy seperti tasyahud awal atau duduk di antara dua sujud. Alasannya karena masbuk belum berada pada rakaat terakhir. Jadi, nama lain dari gerakan duduk di antara dua sujud adalah duduk iftirosy.

Sebagaimana sering dilakukan, duduk iftirosy adalah duduk seperti pada tasyahud awwal dan duduk antara dua sujud.

Duduk Tawarruk

Posisi Duduk Tawaruk Tasyahud Akhir dalam sholat yang benar

Posisi Duduk Tawaruk Tasyahud Akhir dalam sholat yang benar

Duduk tawarruk adalah duduk tasyahud akhir. Perbedaannya pada duduk tawarruk, posisi tumit kaki kiri tidak menjadi penopang bokong, tetapi sedikit diserongkan ke arah bawah kaki kanan.

Lalu, bagian bokong sebelah kiri tidak berpenopang dan langsung bersentuhan dengan lantai atau alas. Bisa dikatakan posisi duduk tawarruk adalah posisi duduk bersimpuh dengan posisi pantat yang miring ke kiri.

Duduk tawarruk adalah saat pantat menempel ke lantai. Dalilnya berdasarkan hadits dari Abu Humaid As-Sa’idiy:

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ، أَنَّهُ كَانَ جَالِسًا مَعَ نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرْنَا صَلاَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ: أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ، وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ، ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ، فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَا، وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ القِبْلَةَ، فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ اليُسْرَى، وَنَصَبَ اليُمْنَى، وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ اليُسْرَى، وَنَصَبَ الأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ»

“Dari Muhammad bin ‘Amru bin ‘Atho’, bahwasanya dia duduk bersama beberapa orang sahabat Nabi SAW. Mereka bercerita tentang sholatnya beliau. Maka Abu Hamid As Sa’idi berkata, ‘Aku adalah orang yang paling hafal dengan sholatnya Rosululloh SAW. Aku melihat beliau, jika bertakbir beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, jika rukuk maka beliau menempatkan kedua (telapak) tangannya pada keuda lututnya, kemudian beliau meluruskan punggungnya. Jika mengangkat kepalanya, beliau berdiri lurus hingga seluruh tulung punggungnya kembali pada tempatnya. Dan jika sujud maka beliau meletakkan tangannya dengan tidak menempelkan lengannya ke tanah atau badannya, dan beliau menghadapkan jari-jari kakinya ke arah kiblat. Apabila duduk pada rokaat kedua, beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan. Dan jika duduk pada rokaat terakhir, maka beliau memasukkan kaki kirinya (di bawah kaki kananya) dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk pada pantatnya.” (HR Bukhori)

Pendapat Ulama Tentang Duduk Tawarruk dan Iftirosy

Dalam masalah duduk tasyahud terdapat perselisihan pendapat di kalangan para ulama. Beberapa pendapat tersebut ntara lain.

Pendapat Imam Malik

Menurut Imam Malik dan pengikutnya, posisi duduk tasyahud baik awal dan akhir adalah duduk tawarruk. Hal ini sama antara pria dan wanita.

Imam Malik mengatakan, ini berdasarkan hadits yang shahih dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA saat berkata:

إِنَّمَا سُنَّةُ الصَّلاَةِ أَنْ تَنْصِبَ رِجْلَكَ الْيُمْنَى وَتَثْنِىَ الْيُسْرَى

“Sesungguhnya sunnah ketika sholat (saat duduk) adalah engkau menegakkan kaki kananmu dan menghamparkan (kaki) kirimu.”

Dalil ini menyebutkan bahwa posisi duduk untuk tawarruk, baik saat berada di pertengahan sholat maupun di akhir sholat.

Pendapat Imam Abu Hanifah

Menurut Imam Abu Hanifah dan pengikutnya, posisi untuk duduk tasyahud baik awal dan akhir adalah duduk iftirosy.

Imam Abu Hanifah berdalil tentang duduknya iftirosy baik pada tasyahud awwal dan akhir dengan hadits dari ‘Aisyah RA saat berkata:

وَكَانَ يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Rosululloh SAW mengucapkan tahiyyat pada setiap dua roka’at, dan beliau duduk iftirosy dengan menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.”

Ini menyebutkan bahwa duduk iftirosy dilakukan di saat duduk ketika sholat, baik di waktu tasyahud maupun duduk yang lainnya, dan baik di raka’at terakhir atau di pertengahan.

Pendapat Imam Asy-Syafi’i

Beliau membedakan antara duduk tasyahud awal dan akhir. Untuk duduk tasyahud awal, beliau berpendapat seperti Imam Abu Hanifah yaitu duduk iftirosy.

untuk duduk tasyahud akhir, beliau berpendapat seperti Imam Malik, yaitu duduk tawarruk. Jadi menurut pendapat ini, duduk tasyahud akhir baik yang sholatnya sekali atau dua kali tasyahud adalah duduk tawarruk.

Duduk tawarruk terdapat pada setiap raka’at terakhir yang diakhiri salam, karena di dalamnya terdapat do’a, bisa jadi lebih lama duduknya. Cara duduk seperti ini yang dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia.

Pendapat Imam Ahmad dan Ishaq

Keduanya menyatakan, jika tasyahudnya dua kali, maka duduknya adalah tawarruk di raka’at terakhir. Namun jika tasyahudnya sekali, maka duduknya di raka’at terakhir adalah duduk iftirosy.

Pendapat dari Imam Asy Syafi’I ini memiliki persamaan dengan Imam Ahmad, yakni menggabungkan seluruh riwayat yang menjelaskan tentang kedua jenis duduk tersebut, yaitu duduk tawaruk dan iftirosy.

Sedangkan perbedaanya adalah dalam menyikapi duduk akhir antara, sholat yang memiliki satu tasyahud dengan sholat yang memiliki dua tasyahud.

Pengecualian Posisi Duduk dalam Sholat

Tidak semua posisi tersebut mampu dilakukan oleh semua orang. Bisa jadi karena sudah tua atau memiliki penyakit tertentu yang menyebabkan seseorang tidak bisa melakukannya.

Oleh karena itu, bisa jadi akan ada pertanyaan seperti bolehkah duduk Iftirosy jika tidak mampu dalam posisi tawarruk?

Sebenarnya, saat seseorang tidak mampu duduk tawarruk, atau melakukan gerakan lain dalam sholat, maka hal tersebut akan mendapatkan keringanan jika alasannya syar’i.

Alloh SWT berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Fattaqullooha Mastaṭho’tum

“Maka bertakwalah kalian kepada Alloh semampu kalian”. (QS At-Thaghobun: 16)

Hal ini juga mendapatkan penjelasan dari Rosululloh SAW yang berkata kepada ‘Imron bin Hushain saat dia sakit:

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا , فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu, maka dengan miring.” (HR Bukhori, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Itulah penjelasan mengenai duduk tawarruk dan iftirosy yang harus diketahui oleh umat Islam.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jenis dan Ragam Sholat Sunnah yang Memiliki Manfaat Luar Biasa

20 Februari 2024 - 18:36

Sholat Sunnah Rojab beserta Niat dan Tatacara Lengkap Arab Latin dan Artinya

7 Februari 2024 - 11:52

Sholat Sunnah Malam 1 Rojab Lengkap Niat dan Tatacara beserta Doanya Arab Latin dan Artinya

7 Februari 2024 - 11:14

Sholat Sunnah Badiyah Jumat

14 Januari 2024 - 08:51

Sholat Sunnah Qobliyah Jumat

14 Januari 2024 - 08:48

Sholat Syukril Wudhu

14 Januari 2024 - 08:42

Trending di Sholat
Buka